Hutang juga bisa di siasati
Siapa Bilang hutang tidak bisa di siasati, Ada berbagai macam dan alasan agar kita tidak selalu berfikir untuk berhutang di saat kita sedang membutuhkan, Cara terbaik mengamankan keuangan Anda adalah menghindari utang. Jika memungkinkan, janganlah berutang. Sebab, kadang orang berutang tidak mengacu pada kebutuhan tapi lebih kepada keinginan.
Agar tak terjerat pada utang, ada beberapa trik. Pertama, pilahlah antara kebutuhan dan keinginan sebelum membeli sesuatu. Contoh gampang adalah pakaian. Pakaian merupakan kebutuhan. Tapi, bersikukuh membeli pakaian dengan merek ternama dan mahal harganya agar terlihat 'wah', adalah keinginan.
Hal yang sama ketika Anda membeli ponsel, perabotan, hingga mobil. Sebagian orang enggan menggunakan ponsel, perabot, atau mobil model lama, yang dianggap ketinggalan zaman. Meskipun benda-benda yang lama masih bagus dan berfungsi dengan baik, Anda tetap memaksakan diri membeli yang baru. Gaya hidup seperti inilah yang banyak menjebak orang untuk berutang.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah iming-iming diskon -banyak kita temui di toserba, hypermarket, toko-toko diskon, juga produk kartu kredit. Rayuan diskon yang menggiurkan seringkali membuat orang 'lapar mata' dan segera membelinya, lupa bahwa barang-barang diskon itu sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.
Agar tak mudah berutang, kondisikan Anda seolah tidak memiliki banyak uang. Buatlah dua nomor rekening terpisah. Satu untuk pengeluaran bulanan dan satunya untuk tabungan yang tidak boleh diutak-atik. Dengan begitu, Anda bisa lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran.
Kepada siapa (sebaiknya) berutang?
Jika
Anda terpaksa harus berutang, Anda harus pandai memilih kepada siapa
atau institusi apa Anda akan berutang. Aturan pertama adalah, Anda
mengenal sumber atau institusi yang menyediakan pinjaman. Jangan
sekali-kali berutang kepada orang yang baru dikenal atau lembaga kredit
yang tidak jelas keberadaannya. Pada beberapa kasus, orang atau lembaga
yang dengan mudah memberikan pinjaman tersebut, akhirnya akan 'memeras'
Anda.Cari dana bantuan dengan bunga terendah atau kalau perlu kepada sanak keluarga yang tidak memberlakukan bunga. Tentu berutang kepada saudara atau teman, biasanya jumlahnya terbatas, tidak seperti lembaga kredit yang khusus memberikan pinjaman.
Setelah meyakini identitas pemberi kredit jelas, pastikan juga syarat yang diajukan tidak terlalu rumit. Pastikan Anda membaca ketentuan yang berlaku termasuk tulisan yang dicetak lebih tipis. Sebab bagian ini biasanya justru berisi hal-hal penting.
Tentukan juga besaran kredit yang akan diambil dan kemampuan Anda membayarnya. Jangan sampai hidup Anda dikejar-kejar (penagih) utang.
Kekayaan hakiki bukanlah banyaknya harta benda, tetapi kecukupan dalam jiwa (hati).
Kalau pertanyaan ini: mau jadi orang kaya atau orang miskin, diajukan kepada kita, mayoritas, atau bahkan semua, akan memilih menjadi orang kaya. Wajar, karena kekayaan identik dengan kebahagiaan; identik dengan kecukupan dan ketenangan hidup. Rasanya hampir tidak seorang pun yang ingin hidup sengsara. Tetapi permasalahannya, dengan apa menjadi kaya sehingga bisa hidup tenang dan berkecukupan? Dengan harta benda atau pangkat dan jabatan duniawi semata?
Jawabnya: pasti: tidak. Karena kenyataan di lapangan membuktikan banyak orang yang memiliki harta berlimpah dan jabatan tinggi tapi hidupnya jauh dari kebahagiaan dan digerogoti berbagai macam penyakit kronis yang bersumber dari hati dan pikirannya yang tidak pernah tenang.
Kalau demikian, dengan apakah seseorang bisa meraih kekayaan, kecukupan dan kebahagiaan hidup sejati? Temukan jawabannya dalam hadis berikut. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan/kecukupan (dalam) jiwa (hati).”(HR. al-Bukhari No. 6081 dan Muslim No. 1051)
Inilah jawaban hadis Rasulullah tersebut yang merupakan wahyu Allah Subhanahu wa ta ala, Pencipta alam semesta beserta isinya, termasuk jiwa dan raga manusia; Dialah Yang Maha Mengetahui tentang segala keadaan manusia, tidak terkecuali sebab yang bisa menjadikan mereka meraih kekayaan, kecukupan dan kebahagiaan hidup sejati. Maha benar Allah Subhanahu wa ta’ala yang berfirman, yang artinya,
Hadi tersebut merupakan argumentasi kuat, ditambah bukti nyata di lapangan, yang menunjukkan bahwa kekayaan dan kecukupan dalam hati merupakan sebab kebahagiaan hidup manusia lahir dan batin, meskipun tidak memiliki harta yang berlimpah.
Dalam hadis lain, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging; jika segumpal daging itu baik, maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging itu buruk, maka akan buruk seluruh tubuh manusia; ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia.”(HR. al-Bukhari No. 52 dan Muslim No. 1599)
Benar, kekayaan sejati adalah iman kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan ridha terhadap segala ketentuan dan pemberian-Nya, yang melahirkan sifat qana’ah (selalu merasa cukup dengan rezeki yang diberikan Allah. Inilah sifat yang akan membawa kepada keberuntungan besar bagi seorang hamba di dunia dan akhirat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rezeki yang secukupnya dan Allah menganugerahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezeki yang Allah Subhanahu wa ta’ala berikan kepadanya.” (HR. Muslim No. 1054)
Makna Kaya dan Miskin
Apa yang dijelaskan dalam hadis tersebut tidaklah mengherankan. Pasalnya, arti “kaya” yang sesungguhnya adalah merasa cukup dan puas dengan apa yang dimiliki, dan orang yang tidak pernah puas dan selalu rakus mencari tambahan, meskipun hartanya berlimpah, sungguh inilah kemiskinan yang sejati, karena kebutuhannya tidak pernah tercukupi.
Imam Ibnu Baththal berkata: “Makna hadis di atas: Bukanlah kekayaan yang hakiki (dirasakan) dengan banyaknya harta, karena banyak orang yang Allah jadikan hartanya berlimpah tidak merasa cukup dengan pemberian Allah tersebut, sehingga dia selalu bekerja keras untuk menambah hartanya dan dia tidak peduli dari mana pun harta tersebut berasal (dari cara yang halal atau haram). Maka (dengan ini) dia seperti orang yang sangat miskin karena (sifatnya) yang sangat rakus. Kekayaan yang hakiki adalah kekayaan (dalam) jiwa (hati), yaitu orang yang merasa cukup, qana’ah dan ridha dengan rezeki yang Allah limpahkan kepadanya, sehingga dia tidak (terlalu) berambisi untuk menambah harta (karena dia telah merasa cukup) dan tidak ngotot mengejarnya, maka dia seperti orang kaya.” (Kitab Tuhfatul ahwadzi, (7/35)
Oleh karena itu, kemiskinan yang sebenarnya adalah sifat rakus dan ambisi yang berlebihan untuk menimbun harta serta tidak pernah merasa cukup dengan pemberian Allah Ta’ala. Padahal, kalau saja seorang manusia mau berpikir dengan jernih dan merenung: apakah kerakusan dan ketamakannya akan menjadikan rezeki yang telah Allah tetapkan baginya bertambah dan semakin luas? Tentu tidak, karena segala sesuatu yang telah ditetapkan-Nya tidak akan berubah, bertambah atau berkurang.
Bahkan lebih dari itu, justru kerakusan dan ambisi yang berlebihan mengejar perhiasan dunia, itulah yang akan menjadikannya semakin menderita dan sengsara. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)-nya, maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya).” (HR. Ibnu Majah No. 4105; Ahmad 5/183; ad-Daarimi No. 229; Ibnu Hibban No. 680; dan lain-lain dengan sanad yang sahih, dinyatakan sahih oleh Ibnu Hibban, al-Bushiri dan Syaikh Al-Albani)
Kesimpulannya: orang yang paling kaya adalah orang yang paling qana’ah (selalu merasa cukup dengan rezeki yang diberikan Allah Subhahu wa ta’ala) dan ridha dengan segala pembagian-Nya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa saalam bersabda: “…Ridhahlah (terimalah) pembagian yang Allah tetapkan bagimu, maka kamu akan menjadi orang yang paling kaya (merasa kecukupan).” (HR at-Tirmidzi No. 2305 dan Ahmad 2/310; dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani)
Semoga bermanfaat bagi yang merenungkannya
- See more at: http://majalah.pengusahamuslim.com/kaya-tanpa-harta-bisa/#sthash.9Nrq5mCX.dpuf
Kekayaan hakiki bukanlah banyaknya harta benda, tetapi kecukupan dalam jiwa (hati).Kalau pertanyaan ini: mau jadi orang kaya atau orang miskin, diajukan kepada kita, mayoritas, atau bahkan semua, akan memilih menjadi orang kaya. Wajar, karena kekayaan identik dengan kebahagiaan; identik dengan kecukupan dan ketenangan hidup. Rasanya hampir tidak seorang pun yang ingin hidup sengsara. Tetapi permasalahannya, dengan apa menjadi kaya sehingga bisa hidup tenang dan berkecukupan? Dengan harta benda atau pangkat dan jabatan duniawi semata?
Jawabnya: pasti: tidak. Karena kenyataan di lapangan membuktikan banyak orang yang memiliki harta berlimpah dan jabatan tinggi tapi hidupnya jauh dari kebahagiaan dan digerogoti berbagai macam penyakit kronis yang bersumber dari hati dan pikirannya yang tidak pernah tenang.
Kalau demikian, dengan apakah seseorang bisa meraih kekayaan, kecukupan dan kebahagiaan hidup sejati? Temukan jawabannya dalam hadis berikut. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan/kecukupan (dalam) jiwa (hati).”(HR. al-Bukhari No. 6081 dan Muslim No. 1051)
Inilah jawaban hadis Rasulullah tersebut yang merupakan wahyu Allah Subhanahu wa ta ala, Pencipta alam semesta beserta isinya, termasuk jiwa dan raga manusia; Dialah Yang Maha Mengetahui tentang segala keadaan manusia, tidak terkecuali sebab yang bisa menjadikan mereka meraih kekayaan, kecukupan dan kebahagiaan hidup sejati. Maha benar Allah Subhanahu wa ta’ala yang berfirman, yang artinya,
{أَلا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ}
“Bukankah Allah yang menciptakan
(alam semesta beserta isinya) Maha Mengetahui (segala sesuatu)? Dan Dia
Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Mulk: 14)Hadi tersebut merupakan argumentasi kuat, ditambah bukti nyata di lapangan, yang menunjukkan bahwa kekayaan dan kecukupan dalam hati merupakan sebab kebahagiaan hidup manusia lahir dan batin, meskipun tidak memiliki harta yang berlimpah.
Dalam hadis lain, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging; jika segumpal daging itu baik, maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging itu buruk, maka akan buruk seluruh tubuh manusia; ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia.”(HR. al-Bukhari No. 52 dan Muslim No. 1599)
Benar, kekayaan sejati adalah iman kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan ridha terhadap segala ketentuan dan pemberian-Nya, yang melahirkan sifat qana’ah (selalu merasa cukup dengan rezeki yang diberikan Allah. Inilah sifat yang akan membawa kepada keberuntungan besar bagi seorang hamba di dunia dan akhirat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rezeki yang secukupnya dan Allah menganugerahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezeki yang Allah Subhanahu wa ta’ala berikan kepadanya.” (HR. Muslim No. 1054)
Makna Kaya dan Miskin
Apa yang dijelaskan dalam hadis tersebut tidaklah mengherankan. Pasalnya, arti “kaya” yang sesungguhnya adalah merasa cukup dan puas dengan apa yang dimiliki, dan orang yang tidak pernah puas dan selalu rakus mencari tambahan, meskipun hartanya berlimpah, sungguh inilah kemiskinan yang sejati, karena kebutuhannya tidak pernah tercukupi.
Imam Ibnu Baththal berkata: “Makna hadis di atas: Bukanlah kekayaan yang hakiki (dirasakan) dengan banyaknya harta, karena banyak orang yang Allah jadikan hartanya berlimpah tidak merasa cukup dengan pemberian Allah tersebut, sehingga dia selalu bekerja keras untuk menambah hartanya dan dia tidak peduli dari mana pun harta tersebut berasal (dari cara yang halal atau haram). Maka (dengan ini) dia seperti orang yang sangat miskin karena (sifatnya) yang sangat rakus. Kekayaan yang hakiki adalah kekayaan (dalam) jiwa (hati), yaitu orang yang merasa cukup, qana’ah dan ridha dengan rezeki yang Allah limpahkan kepadanya, sehingga dia tidak (terlalu) berambisi untuk menambah harta (karena dia telah merasa cukup) dan tidak ngotot mengejarnya, maka dia seperti orang kaya.” (Kitab Tuhfatul ahwadzi, (7/35)
Oleh karena itu, kemiskinan yang sebenarnya adalah sifat rakus dan ambisi yang berlebihan untuk menimbun harta serta tidak pernah merasa cukup dengan pemberian Allah Ta’ala. Padahal, kalau saja seorang manusia mau berpikir dengan jernih dan merenung: apakah kerakusan dan ketamakannya akan menjadikan rezeki yang telah Allah tetapkan baginya bertambah dan semakin luas? Tentu tidak, karena segala sesuatu yang telah ditetapkan-Nya tidak akan berubah, bertambah atau berkurang.
Bahkan lebih dari itu, justru kerakusan dan ambisi yang berlebihan mengejar perhiasan dunia, itulah yang akan menjadikannya semakin menderita dan sengsara. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)-nya, maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya).” (HR. Ibnu Majah No. 4105; Ahmad 5/183; ad-Daarimi No. 229; Ibnu Hibban No. 680; dan lain-lain dengan sanad yang sahih, dinyatakan sahih oleh Ibnu Hibban, al-Bushiri dan Syaikh Al-Albani)
Kesimpulannya: orang yang paling kaya adalah orang yang paling qana’ah (selalu merasa cukup dengan rezeki yang diberikan Allah Subhahu wa ta’ala) dan ridha dengan segala pembagian-Nya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa saalam bersabda: “…Ridhahlah (terimalah) pembagian yang Allah tetapkan bagimu, maka kamu akan menjadi orang yang paling kaya (merasa kecukupan).” (HR at-Tirmidzi No. 2305 dan Ahmad 2/310; dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani)
Semoga bermanfaat bagi yang merenungkannya
- See more at: http://majalah.pengusahamuslim.com/kaya-tanpa-harta-bisa/#sthash.9Nrq5mCX.dpuf
Kalau pertanyaan ini: mau jadi orang kaya atau orang miskin, diajukan kepada kita, mayoritas, atau bahkan semua, akan memilih menjadi orang kaya. Wajar, karena kekayaan identik dengan kebahagiaan; identik dengan kecukupan dan ketenangan hidup. Rasanya hampir tidak seorang pun yang ingin hidup sengsara. Tetapi permasalahannya, dengan apa menjadi kaya sehingga bisa hidup tenang dan berkecukupan? Dengan harta benda atau pangkat dan jabatan duniawi semata?
Jawabnya: pasti: tidak. Karena kenyataan di lapangan membuktikan banyak orang yang memiliki harta berlimpah dan jabatan tinggi tapi hidupnya jauh dari kebahagiaan dan digerogoti berbagai macam penyakit kronis yang bersumber dari hati dan pikirannya yang tidak pernah tenang.
Kalau demikian, dengan apakah seseorang bisa meraih kekayaan, kecukupan dan kebahagiaan hidup sejati? Temukan jawabannya dalam hadis berikut. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan/kecukupan (dalam) jiwa (hati).”(HR. al-Bukhari No. 6081 dan Muslim No. 1051)
Inilah jawaban hadis Rasulullah tersebut yang merupakan wahyu Allah Subhanahu wa ta ala, Pencipta alam semesta beserta isinya, termasuk jiwa dan raga manusia; Dialah Yang Maha Mengetahui tentang segala keadaan manusia, tidak terkecuali sebab yang bisa menjadikan mereka meraih kekayaan, kecukupan dan kebahagiaan hidup sejati. Maha benar Allah Subhanahu wa ta’ala yang berfirman, yang artinya,
{أَلا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ}
“Bukankah Allah yang menciptakan
(alam semesta beserta isinya) Maha Mengetahui (segala sesuatu)? Dan Dia
Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Mulk: 14)Hadi tersebut merupakan argumentasi kuat, ditambah bukti nyata di lapangan, yang menunjukkan bahwa kekayaan dan kecukupan dalam hati merupakan sebab kebahagiaan hidup manusia lahir dan batin, meskipun tidak memiliki harta yang berlimpah.
Dalam hadis lain, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging; jika segumpal daging itu baik, maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging itu buruk, maka akan buruk seluruh tubuh manusia; ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia.”(HR. al-Bukhari No. 52 dan Muslim No. 1599)
Benar, kekayaan sejati adalah iman kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan ridha terhadap segala ketentuan dan pemberian-Nya, yang melahirkan sifat qana’ah (selalu merasa cukup dengan rezeki yang diberikan Allah. Inilah sifat yang akan membawa kepada keberuntungan besar bagi seorang hamba di dunia dan akhirat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rezeki yang secukupnya dan Allah menganugerahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezeki yang Allah Subhanahu wa ta’ala berikan kepadanya.” (HR. Muslim No. 1054)
Makna Kaya dan Miskin
Apa yang dijelaskan dalam hadis tersebut tidaklah mengherankan. Pasalnya, arti “kaya” yang sesungguhnya adalah merasa cukup dan puas dengan apa yang dimiliki, dan orang yang tidak pernah puas dan selalu rakus mencari tambahan, meskipun hartanya berlimpah, sungguh inilah kemiskinan yang sejati, karena kebutuhannya tidak pernah tercukupi.
Imam Ibnu Baththal berkata: “Makna hadis di atas: Bukanlah kekayaan yang hakiki (dirasakan) dengan banyaknya harta, karena banyak orang yang Allah jadikan hartanya berlimpah tidak merasa cukup dengan pemberian Allah tersebut, sehingga dia selalu bekerja keras untuk menambah hartanya dan dia tidak peduli dari mana pun harta tersebut berasal (dari cara yang halal atau haram). Maka (dengan ini) dia seperti orang yang sangat miskin karena (sifatnya) yang sangat rakus. Kekayaan yang hakiki adalah kekayaan (dalam) jiwa (hati), yaitu orang yang merasa cukup, qana’ah dan ridha dengan rezeki yang Allah limpahkan kepadanya, sehingga dia tidak (terlalu) berambisi untuk menambah harta (karena dia telah merasa cukup) dan tidak ngotot mengejarnya, maka dia seperti orang kaya.” (Kitab Tuhfatul ahwadzi, (7/35)
Oleh karena itu, kemiskinan yang sebenarnya adalah sifat rakus dan ambisi yang berlebihan untuk menimbun harta serta tidak pernah merasa cukup dengan pemberian Allah Ta’ala. Padahal, kalau saja seorang manusia mau berpikir dengan jernih dan merenung: apakah kerakusan dan ketamakannya akan menjadikan rezeki yang telah Allah tetapkan baginya bertambah dan semakin luas? Tentu tidak, karena segala sesuatu yang telah ditetapkan-Nya tidak akan berubah, bertambah atau berkurang.
Bahkan lebih dari itu, justru kerakusan dan ambisi yang berlebihan mengejar perhiasan dunia, itulah yang akan menjadikannya semakin menderita dan sengsara. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)-nya, maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya).” (HR. Ibnu Majah No. 4105; Ahmad 5/183; ad-Daarimi No. 229; Ibnu Hibban No. 680; dan lain-lain dengan sanad yang sahih, dinyatakan sahih oleh Ibnu Hibban, al-Bushiri dan Syaikh Al-Albani)
Kesimpulannya: orang yang paling kaya adalah orang yang paling qana’ah (selalu merasa cukup dengan rezeki yang diberikan Allah Subhahu wa ta’ala) dan ridha dengan segala pembagian-Nya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa saalam bersabda: “…Ridhahlah (terimalah) pembagian yang Allah tetapkan bagimu, maka kamu akan menjadi orang yang paling kaya (merasa kecukupan).” (HR at-Tirmidzi No. 2305 dan Ahmad 2/310; dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani)
Semoga bermanfaat bagi yang merenungkannya
- See more at: http://majalah.pengusahamuslim.com/kaya-tanpa-harta-bisa/#sthash.9Nrq5mCX.dpuf
Kalau pertanyaan ini: mau jadi orang kaya atau orang miskin, diajukan kepada kita, mayoritas, atau bahkan semua, akan memilih menjadi orang kaya. Wajar, karena kekayaan identik dengan kebahagiaan; identik dengan kecukupan dan ketenangan hidup. Rasanya hampir tidak seorang pun yang ingin hidup sengsara. Tetapi permasalahannya, dengan apa menjadi kaya sehingga bisa hidup tenang dan berkecukupan? Dengan harta benda atau pangkat dan jabatan duniawi semata?
Jawabnya: pasti: tidak. Karena kenyataan di lapangan membuktikan banyak orang yang memiliki harta berlimpah dan jabatan tinggi tapi hidupnya jauh dari kebahagiaan dan digerogoti berbagai macam penyakit kronis yang bersumber dari hati dan pikirannya yang tidak pernah tenang.
Kalau demikian, dengan apakah seseorang bisa meraih kekayaan, kecukupan dan kebahagiaan hidup sejati? Temukan jawabannya dalam hadis berikut. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan/kecukupan (dalam) jiwa (hati).”(HR. al-Bukhari No. 6081 dan Muslim No. 1051)
Inilah jawaban hadis Rasulullah tersebut yang merupakan wahyu Allah Subhanahu wa ta ala, Pencipta alam semesta beserta isinya, termasuk jiwa dan raga manusia; Dialah Yang Maha Mengetahui tentang segala keadaan manusia, tidak terkecuali sebab yang bisa menjadikan mereka meraih kekayaan, kecukupan dan kebahagiaan hidup sejati. Maha benar Allah Subhanahu wa ta’ala yang berfirman, yang artinya,
{أَلا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ}
“Bukankah Allah yang menciptakan
(alam semesta beserta isinya) Maha Mengetahui (segala sesuatu)? Dan Dia
Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Mulk: 14)Hadi tersebut merupakan argumentasi kuat, ditambah bukti nyata di lapangan, yang menunjukkan bahwa kekayaan dan kecukupan dalam hati merupakan sebab kebahagiaan hidup manusia lahir dan batin, meskipun tidak memiliki harta yang berlimpah.
Dalam hadis lain, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging; jika segumpal daging itu baik, maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging itu buruk, maka akan buruk seluruh tubuh manusia; ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia.”(HR. al-Bukhari No. 52 dan Muslim No. 1599)
Benar, kekayaan sejati adalah iman kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan ridha terhadap segala ketentuan dan pemberian-Nya, yang melahirkan sifat qana’ah (selalu merasa cukup dengan rezeki yang diberikan Allah. Inilah sifat yang akan membawa kepada keberuntungan besar bagi seorang hamba di dunia dan akhirat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rezeki yang secukupnya dan Allah menganugerahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezeki yang Allah Subhanahu wa ta’ala berikan kepadanya.” (HR. Muslim No. 1054)
Makna Kaya dan Miskin
Apa yang dijelaskan dalam hadis tersebut tidaklah mengherankan. Pasalnya, arti “kaya” yang sesungguhnya adalah merasa cukup dan puas dengan apa yang dimiliki, dan orang yang tidak pernah puas dan selalu rakus mencari tambahan, meskipun hartanya berlimpah, sungguh inilah kemiskinan yang sejati, karena kebutuhannya tidak pernah tercukupi.
Imam Ibnu Baththal berkata: “Makna hadis di atas: Bukanlah kekayaan yang hakiki (dirasakan) dengan banyaknya harta, karena banyak orang yang Allah jadikan hartanya berlimpah tidak merasa cukup dengan pemberian Allah tersebut, sehingga dia selalu bekerja keras untuk menambah hartanya dan dia tidak peduli dari mana pun harta tersebut berasal (dari cara yang halal atau haram). Maka (dengan ini) dia seperti orang yang sangat miskin karena (sifatnya) yang sangat rakus. Kekayaan yang hakiki adalah kekayaan (dalam) jiwa (hati), yaitu orang yang merasa cukup, qana’ah dan ridha dengan rezeki yang Allah limpahkan kepadanya, sehingga dia tidak (terlalu) berambisi untuk menambah harta (karena dia telah merasa cukup) dan tidak ngotot mengejarnya, maka dia seperti orang kaya.” (Kitab Tuhfatul ahwadzi, (7/35)
Oleh karena itu, kemiskinan yang sebenarnya adalah sifat rakus dan ambisi yang berlebihan untuk menimbun harta serta tidak pernah merasa cukup dengan pemberian Allah Ta’ala. Padahal, kalau saja seorang manusia mau berpikir dengan jernih dan merenung: apakah kerakusan dan ketamakannya akan menjadikan rezeki yang telah Allah tetapkan baginya bertambah dan semakin luas? Tentu tidak, karena segala sesuatu yang telah ditetapkan-Nya tidak akan berubah, bertambah atau berkurang.
Bahkan lebih dari itu, justru kerakusan dan ambisi yang berlebihan mengejar perhiasan dunia, itulah yang akan menjadikannya semakin menderita dan sengsara. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)-nya, maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya).” (HR. Ibnu Majah No. 4105; Ahmad 5/183; ad-Daarimi No. 229; Ibnu Hibban No. 680; dan lain-lain dengan sanad yang sahih, dinyatakan sahih oleh Ibnu Hibban, al-Bushiri dan Syaikh Al-Albani)
Kesimpulannya: orang yang paling kaya adalah orang yang paling qana’ah (selalu merasa cukup dengan rezeki yang diberikan Allah Subhahu wa ta’ala) dan ridha dengan segala pembagian-Nya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa saalam bersabda: “…Ridhahlah (terimalah) pembagian yang Allah tetapkan bagimu, maka kamu akan menjadi orang yang paling kaya (merasa kecukupan).” (HR at-Tirmidzi No. 2305 dan Ahmad 2/310; dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani)
Semoga bermanfaat bagi yang merenungkannya
- See more at: http://majalah.pengusahamuslim.com/kaya-tanpa-harta-bisa/#sthash.9Nrq5mCX.dpuf
Kekayaan hakiki bukanlah banyaknya harta benda, tetapi kecukupan dalam jiwa (hati).
Kalau pertanyaan ini: mau jadi orang kaya atau orang miskin, diajukan kepada kita, mayoritas, atau bahkan semua, akan memilih menjadi orang kaya. Wajar, karena kekayaan identik dengan kebahagiaan; identik dengan kecukupan dan ketenangan hidup. Rasanya hampir tidak seorang pun yang ingin hidup sengsara. Tetapi permasalahannya, dengan apa menjadi kaya sehingga bisa hidup tenang dan berkecukupan? Dengan harta benda atau pangkat dan jabatan duniawi semata?
Jawabnya: pasti: tidak. Karena kenyataan di lapangan membuktikan banyak orang yang memiliki harta berlimpah dan jabatan tinggi tapi hidupnya jauh dari kebahagiaan dan digerogoti berbagai macam penyakit kronis yang bersumber dari hati dan pikirannya yang tidak pernah tenang.
Kalau demikian, dengan apakah seseorang bisa meraih kekayaan, kecukupan dan kebahagiaan hidup sejati? Temukan jawabannya dalam hadis berikut. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan/kecukupan (dalam) jiwa (hati).”(HR. al-Bukhari No. 6081 dan Muslim No. 1051)
Inilah jawaban hadis Rasulullah tersebut yang merupakan wahyu Allah Subhanahu wa ta ala, Pencipta alam semesta beserta isinya, termasuk jiwa dan raga manusia; Dialah Yang Maha Mengetahui tentang segala keadaan manusia, tidak terkecuali sebab yang bisa menjadikan mereka meraih kekayaan, kecukupan dan kebahagiaan hidup sejati. Maha benar Allah Subhanahu wa ta’ala yang berfirman, yang artinya,
Hadi tersebut merupakan argumentasi kuat, ditambah bukti nyata di lapangan, yang menunjukkan bahwa kekayaan dan kecukupan dalam hati merupakan sebab kebahagiaan hidup manusia lahir dan batin, meskipun tidak memiliki harta yang berlimpah.
Dalam hadis lain, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging; jika segumpal daging itu baik, maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging itu buruk, maka akan buruk seluruh tubuh manusia; ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia.”(HR. al-Bukhari No. 52 dan Muslim No. 1599)
Benar, kekayaan sejati adalah iman kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan ridha terhadap segala ketentuan dan pemberian-Nya, yang melahirkan sifat qana’ah (selalu merasa cukup dengan rezeki yang diberikan Allah. Inilah sifat yang akan membawa kepada keberuntungan besar bagi seorang hamba di dunia dan akhirat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rezeki yang secukupnya dan Allah menganugerahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezeki yang Allah Subhanahu wa ta’ala berikan kepadanya.” (HR. Muslim No. 1054)
Makna Kaya dan Miskin
Apa yang dijelaskan dalam hadis tersebut tidaklah mengherankan. Pasalnya, arti “kaya” yang sesungguhnya adalah merasa cukup dan puas dengan apa yang dimiliki, dan orang yang tidak pernah puas dan selalu rakus mencari tambahan, meskipun hartanya berlimpah, sungguh inilah kemiskinan yang sejati, karena kebutuhannya tidak pernah tercukupi.
Imam Ibnu Baththal berkata: “Makna hadis di atas: Bukanlah kekayaan yang hakiki (dirasakan) dengan banyaknya harta, karena banyak orang yang Allah jadikan hartanya berlimpah tidak merasa cukup dengan pemberian Allah tersebut, sehingga dia selalu bekerja keras untuk menambah hartanya dan dia tidak peduli dari mana pun harta tersebut berasal (dari cara yang halal atau haram). Maka (dengan ini) dia seperti orang yang sangat miskin karena (sifatnya) yang sangat rakus. Kekayaan yang hakiki adalah kekayaan (dalam) jiwa (hati), yaitu orang yang merasa cukup, qana’ah dan ridha dengan rezeki yang Allah limpahkan kepadanya, sehingga dia tidak (terlalu) berambisi untuk menambah harta (karena dia telah merasa cukup) dan tidak ngotot mengejarnya, maka dia seperti orang kaya.” (Kitab Tuhfatul ahwadzi, (7/35)
Oleh karena itu, kemiskinan yang sebenarnya adalah sifat rakus dan ambisi yang berlebihan untuk menimbun harta serta tidak pernah merasa cukup dengan pemberian Allah Ta’ala. Padahal, kalau saja seorang manusia mau berpikir dengan jernih dan merenung: apakah kerakusan dan ketamakannya akan menjadikan rezeki yang telah Allah tetapkan baginya bertambah dan semakin luas? Tentu tidak, karena segala sesuatu yang telah ditetapkan-Nya tidak akan berubah, bertambah atau berkurang.
Bahkan lebih dari itu, justru kerakusan dan ambisi yang berlebihan mengejar perhiasan dunia, itulah yang akan menjadikannya semakin menderita dan sengsara. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)-nya, maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya).” (HR. Ibnu Majah No. 4105; Ahmad 5/183; ad-Daarimi No. 229; Ibnu Hibban No. 680; dan lain-lain dengan sanad yang sahih, dinyatakan sahih oleh Ibnu Hibban, al-Bushiri dan Syaikh Al-Albani)
Kesimpulannya: orang yang paling kaya adalah orang yang paling qana’ah (selalu merasa cukup dengan rezeki yang diberikan Allah Subhahu wa ta’ala) dan ridha dengan segala pembagian-Nya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa saalam bersabda: “…Ridhahlah (terimalah) pembagian yang Allah tetapkan bagimu, maka kamu akan menjadi orang yang paling kaya (merasa kecukupan).” (HR at-Tirmidzi No. 2305 dan Ahmad 2/310; dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani)
Semoga bermanfaat bagi yang merenungkannya
- See more at: http://majalah.pengusahamuslim.com/kaya-tanpa-harta-bisa/#sthash.9Nrq5mCX.dpuf
Kalau pertanyaan ini: mau jadi orang kaya atau orang miskin, diajukan kepada kita, mayoritas, atau bahkan semua, akan memilih menjadi orang kaya. Wajar, karena kekayaan identik dengan kebahagiaan; identik dengan kecukupan dan ketenangan hidup. Rasanya hampir tidak seorang pun yang ingin hidup sengsara. Tetapi permasalahannya, dengan apa menjadi kaya sehingga bisa hidup tenang dan berkecukupan? Dengan harta benda atau pangkat dan jabatan duniawi semata?
Jawabnya: pasti: tidak. Karena kenyataan di lapangan membuktikan banyak orang yang memiliki harta berlimpah dan jabatan tinggi tapi hidupnya jauh dari kebahagiaan dan digerogoti berbagai macam penyakit kronis yang bersumber dari hati dan pikirannya yang tidak pernah tenang.
Kalau demikian, dengan apakah seseorang bisa meraih kekayaan, kecukupan dan kebahagiaan hidup sejati? Temukan jawabannya dalam hadis berikut. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan/kecukupan (dalam) jiwa (hati).”(HR. al-Bukhari No. 6081 dan Muslim No. 1051)
Inilah jawaban hadis Rasulullah tersebut yang merupakan wahyu Allah Subhanahu wa ta ala, Pencipta alam semesta beserta isinya, termasuk jiwa dan raga manusia; Dialah Yang Maha Mengetahui tentang segala keadaan manusia, tidak terkecuali sebab yang bisa menjadikan mereka meraih kekayaan, kecukupan dan kebahagiaan hidup sejati. Maha benar Allah Subhanahu wa ta’ala yang berfirman, yang artinya,
{أَلا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ}
“Bukankah Allah yang menciptakan
(alam semesta beserta isinya) Maha Mengetahui (segala sesuatu)? Dan Dia
Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Mulk: 14)Hadi tersebut merupakan argumentasi kuat, ditambah bukti nyata di lapangan, yang menunjukkan bahwa kekayaan dan kecukupan dalam hati merupakan sebab kebahagiaan hidup manusia lahir dan batin, meskipun tidak memiliki harta yang berlimpah.
Dalam hadis lain, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging; jika segumpal daging itu baik, maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging itu buruk, maka akan buruk seluruh tubuh manusia; ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia.”(HR. al-Bukhari No. 52 dan Muslim No. 1599)
Benar, kekayaan sejati adalah iman kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan ridha terhadap segala ketentuan dan pemberian-Nya, yang melahirkan sifat qana’ah (selalu merasa cukup dengan rezeki yang diberikan Allah. Inilah sifat yang akan membawa kepada keberuntungan besar bagi seorang hamba di dunia dan akhirat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rezeki yang secukupnya dan Allah menganugerahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezeki yang Allah Subhanahu wa ta’ala berikan kepadanya.” (HR. Muslim No. 1054)
Makna Kaya dan Miskin
Apa yang dijelaskan dalam hadis tersebut tidaklah mengherankan. Pasalnya, arti “kaya” yang sesungguhnya adalah merasa cukup dan puas dengan apa yang dimiliki, dan orang yang tidak pernah puas dan selalu rakus mencari tambahan, meskipun hartanya berlimpah, sungguh inilah kemiskinan yang sejati, karena kebutuhannya tidak pernah tercukupi.
Imam Ibnu Baththal berkata: “Makna hadis di atas: Bukanlah kekayaan yang hakiki (dirasakan) dengan banyaknya harta, karena banyak orang yang Allah jadikan hartanya berlimpah tidak merasa cukup dengan pemberian Allah tersebut, sehingga dia selalu bekerja keras untuk menambah hartanya dan dia tidak peduli dari mana pun harta tersebut berasal (dari cara yang halal atau haram). Maka (dengan ini) dia seperti orang yang sangat miskin karena (sifatnya) yang sangat rakus. Kekayaan yang hakiki adalah kekayaan (dalam) jiwa (hati), yaitu orang yang merasa cukup, qana’ah dan ridha dengan rezeki yang Allah limpahkan kepadanya, sehingga dia tidak (terlalu) berambisi untuk menambah harta (karena dia telah merasa cukup) dan tidak ngotot mengejarnya, maka dia seperti orang kaya.” (Kitab Tuhfatul ahwadzi, (7/35)
Oleh karena itu, kemiskinan yang sebenarnya adalah sifat rakus dan ambisi yang berlebihan untuk menimbun harta serta tidak pernah merasa cukup dengan pemberian Allah Ta’ala. Padahal, kalau saja seorang manusia mau berpikir dengan jernih dan merenung: apakah kerakusan dan ketamakannya akan menjadikan rezeki yang telah Allah tetapkan baginya bertambah dan semakin luas? Tentu tidak, karena segala sesuatu yang telah ditetapkan-Nya tidak akan berubah, bertambah atau berkurang.
Bahkan lebih dari itu, justru kerakusan dan ambisi yang berlebihan mengejar perhiasan dunia, itulah yang akan menjadikannya semakin menderita dan sengsara. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)-nya, maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya).” (HR. Ibnu Majah No. 4105; Ahmad 5/183; ad-Daarimi No. 229; Ibnu Hibban No. 680; dan lain-lain dengan sanad yang sahih, dinyatakan sahih oleh Ibnu Hibban, al-Bushiri dan Syaikh Al-Albani)
Kesimpulannya: orang yang paling kaya adalah orang yang paling qana’ah (selalu merasa cukup dengan rezeki yang diberikan Allah Subhahu wa ta’ala) dan ridha dengan segala pembagian-Nya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa saalam bersabda: “…Ridhahlah (terimalah) pembagian yang Allah tetapkan bagimu, maka kamu akan menjadi orang yang paling kaya (merasa kecukupan).” (HR at-Tirmidzi No. 2305 dan Ahmad 2/310; dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani)
Semoga bermanfaat bagi yang merenungkannya
- See more at: http://majalah.pengusahamuslim.com/kaya-tanpa-harta-bisa/#sthash.9Nrq5mCX.dpuf
EmoticonEmoticon